Makalah
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
“TEPO ASA AROA DALAM PRESPEKTIF MULTIKULTURALISME”
![]() |
Oleh :
Ranidya Marchella Mauruh
A 321 13 049
PROGRAM STUDI PPKN
JURUSAN PENDIDIKAN IPS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2016
A.
PENDAHULUAN
Bangsa
Indonesia terdiri atas sejumlah besar kelompok-kelompok etnis, budaya, agama
dan lain-lain. Hefner (2007:16) mengilustrasikan Indonesia sebagaimana juga
Malaysia dan Singapura memiliki warisan dan tantangan pluralisme budaya (cultural
pluralism) secara lebih mencolok, sehingga dipandang sebagai “lokus klasik”
bagi bentukan baru “masyarakat majemuk” (plural society). Keanekaragaman
atau yang sering disebut dengan multikulturalisme adalah istilah yang digunakan
untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun
kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya
keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan
masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang
mereka anut. Keanekaragaman bangsa Indonesia dilatarbelakangi oleh jumlah
suku-suku bangsa di Indonesia yang sangat banyak, dimana setiap suku bangsa
tersebut mempunyai ciri atau karakter tersendiri, baik dalam aspek sosial
maupun budaya. Jika masing-masing suku bangsa tersebut memiliki tradisi sosial
budaya masing-masing, berarti di Indonesia ada dan berkembang bermacam-macam
budaya yang memiliki ciri khas masing-masing. Contoh dalam bidang bahasa,
dimana setiap daerah mempunyai bahasa daerahnya masing-masing. Bahasa daerah
orang Sulawesi akan berbeda dengan bahasa orang Jawa. Jika dilihat dari segi
dialek maka akan lebih banyak lagi, misalnyadi Sulawesi saja mempunyai banyak
dialek lokal. Dan ada suatu semboyan yang sejak dahulu dikenal dan melekat
dengan jati diri bangsa Indonesia yaitu “ Bhinneka Tunggal Ika”.
Setiap
suku di Indonesia memiliki slogan-slogan atau semboyan-semboyan budaya yang
tentunya semboyan itu berakar, tumbuh dan berkembang pada budaya mereka
sendiri. Semboyan yang dijadikan sebagai pandangan hidup maupun sebagai
penangkal konflik yang kemungkinan terjadi karena keanekaragaman suku, agama
dan ras bisa saja memanggil konflik untuk masuk dan memecah-belah kehidupan
budaya kita yang beranekaragam. Kehadiran era reformasi yang semula diharapkan
untuk mempersempit sekat-sekat perbedaan, justru membuat beberapa oknum anak
bangsa membenarkan aksi agresif sektarian, militansi ekstrem, kebrutalan,
separatisme dan tindakan-tindakan kekerasan lain yang bisa mengancam kesatuan
nasional.
Mori
merupakan satu dari beribu suku yang ada di Indonesia. Seperti halnya
kebanyakan suku, Mori juga memiliki semboyan atau slogan-slogan yang dipakai
orang-orang Mori sebagai pandangan hidup untuk menciptakan kerukunan antar
sesama baik itu diluar suku Mori maupun didalam suku Mori. Semboyan yang
melekat bagi masyarakat suku mori tersebut yaitu “Tepo Asa Aroa” yang artinya
“Bersatu Hati”.
Melihat
hal tersebut, penulis menganggap perlu menangkap dan mendokumentasi nilai-nilai
budaya dan implementasinya dalam kehidupan antar umat beragama yang
menghantarkan masyarakat suku Mori mampu membangun kehidupan toleran. Selain
itu, tulisan ini, dapat juga dipandang sebagai bahan refleksi untuk membangun
sebuah model masyarakat Indonesia yang lebih ramah untuk kehidupan budaya
Indonesia yang beragam dengan didasarkan pada pengembangan nilai-nilai lokal.
B. PERMASALAHAN
Melihat latar belakang diatas timbul permasalah sebagai
berikut :
1.
Apa makna yang terkandung dari semboyan
“Tepo Asa Aroa” ?
2.
Bagaimana kontribusi makna dari Tepo Asa
Aroa terhadap masyarakat suku Mori maupun diluar suku Mori ?
3.
Bagaimana hubungan semboyan tersebut
dengan pendidikan multikulturalisme ?
C. PEMBAHASAN
1.
Makna
Slogan Tepo Asa Aroa
Multikulturalisme
berasal dari adanya suatu kebudayaan. Secara etimologi, multikulturalisme
terdiri dari multi yang berarti “banyak”, kultur yang berarti “budaya”, dan
isme yang berarti paham “aliran”. Jadi, multikulturalisme adalah suatu paham,
corak, kegiatan, yang terdiri dari banyak budaya pada suatu daerah tertentu.
Multikulturalisme di Indonesia merupakan suatu hal yang tidak dapat
dihindarkan. Namun pada kenyataannya kondisi demikian tidak pula diiringi
dengan keadaan sosial yang membaik. Bahkan banyak terjadinya ketidak teraturan
dalam kehidupan sosial di Indonesia pada saat ini yang menyebabkan terjadinya
berbagai ketegangan dan konflik. Berbagaimacam slogan-slogan suku dan
budya dibuat untuk meminimalisir terjadinya konflik-konflik. Slogan yang nantinya
dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Tepo Asa Aroa adalah slogan masyarakat suku Mori yang
berakar, tumbuh, dan berkembang pada kebudayaan suku Mori. Slogan ini mempunyai
arti “bersatu hati”. Bersatu hati artinya bersama-sama menyatukan hati, pikiran
dan perbuatan untuk membangun kehidupan yang tentram antar sesama sehingga
tidak ada ruang bagi konflik untuk masuk. Masyarakat suku mori tidak hanya
mengimplementasikan slogan budaya ini kepada sesama orang mori saja tetapi juga
kepada orang lain diluar suku mori yang hidup berdampingan dengan mereka dalam
satu kampung. Saling membantu, saling hidup menghidupi dalam berbagai bentuk tanpa
memperdulikan perbedaan terlihat dari kehidupan masyarakat yang bisa saling
mawas diri akan ancaman konflik. Berbagi dengan yang kekurangan, saling
mendukung dalam kehidupan sosial serta mentoleransikan adat dan agama yang
berbeda, jadi suasana sejuk yang terlihat dalam realitas kehidupan masyarakat
bisa dirasakan oleh masyarakat suku mori maupun masyarakat lain yang hidup berdampingan
dengan orang mori dalam satu kampung.
2.
Kontribusi
Slogan “Tepo Asa Aroa” terhadap Masyarakat Suku Mori maupun diluar Suku Mori
Tepo
asa aroa bukan hanya sekedar slogan belaka tapi slogan ini mampu membangun
kehidupan masyarakat suku mori menjadi
tentram dan aman, menumbuhkan rasa persaudaraan yang tinggi terhadap sesama
suku maupun berbeda suku. Orang-orang suku mori sebagian ada yang hidup
bertempat tinggal berbaur dengan masyarakat suku lainnya. Misalnya, di Kota
Palu. Mayoritas masyarakat kota Palu adalah mereka yang bersuku Kaili, lain
diantaranya adalah masyarakat suku lain. Mori adalah salah satu suku yang ada
di kota Palu yang keberadaannya hanya sebagian kecil, mereka -orang suku mori-
biasanya datang ke Palu untuk mencari pekerjaan, pendidikan yang layak dan ada
pula yang memang bertempat tinggal di Palu. Kehidupan orang mori di kota Palu
tidak lepas dari slogan “Tepo Asa Aroa”. Mereka mengimplementasikan makna
slogan tersebut dalam kehidupan berbaur mereka dengan masyarakat lain sehingga
kebanyakan orang menilai orang suku mori memiliki pribadi yang ramah.
Dengan
adanya slogan “tepo asa aroa” kehidupan sosial masyarakat suku mori dengan suku
lainnya menjadi tentram dan aman. Tidak ada diskriminasi dari suku mayoritas
kepada suku minoritas dan tidak ada rasa memaksakan budaya dari suku minoritas
kepada suku mayoritas.
3.
Hubungan
Slogan “Tepo Asa Aroa” dengan Pendidikan Multikulturalisme
Tepo asa aroa dalam prespektif
multikulturalisme tidak hanya merujuk pada budaya suku mori saja tetapi juga
merangkul semua suku dan budaya meskipun memang slogan ini adalah milik
masyarakat suku mori tapi dalam implementasinya merangkul semua suku dan
budaya. Tepo asa aroa jika kita kaitkan dengan multikulturalisme berarti
bersama-sama bersatu hati untuk menciptakan kehidupan suku, agama, ras dan
budaya yang rukun tanpa adanya diskriminasi. Bersatu hati menjaga kerukunan
kehidupan keanekaragaman budaya bangsa Indonesia.
Seiring dengan perkembangan zaman yang dipengaruhi oleh adanya globalisasi
banyak terjadi krisis sosial-budaya yang terjadi di masyarakat. Misalnya
seperti merosotnya penghargaan dan kepatuhan terhadap hukum, etika, moral, dan
kesantunan sosial. Semakin luasnya penyebaran narkotika dan penyakit-penyakit
sosial lainnya. Disinilah implementasi slogan “tepo asa aroa” berperan. Dimana
seluruh masyarakat -bukan hanya orang mori- bersama-sama bersatu hati untuk
mencegah terjadinya lebih banyak lagi krisis sosial-budaya dan penyakit sosial
lainnya. Sehingga globalisasi tidak mengganggu keanekaragaman suku dan budaya
yang dimiliki bangsa Indonesia.
Tepo
asa aroa dalam kaitannya dengan pendidikan multikulturalisme diarahkan sebagai advokasi untuk menciptakan masyarakat yang toleran
terhadap sesama. Menghindari pandangan diskriminasi terhadap budaya dan suku
orang lain. Menurut Andersen dan Cusher (1994:320) pendidikan multikultural
adalah pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Kemudian, James Banks (1993:
3) mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people
of color. Artinya, pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan
sebagai keniscayaan (anugerah Tuhan). Dimana dengan adanya kondisi tersebut
kita mampu untuk menerima perbedaan dengan penuh rasa toleransi. Penyelenggaraan
pendidikan multikultural dapat dikatakann berhasil apabila terbentuk pada diri
setiap peserta didik sikap saling toleransi, tidak bermusuhan, dan tidak
berkonflik yang disebabkan oleh perbedaan budaya, suku, bahasa, dan lain
sebagainya.
D.
KESIMPULAN
Slogan dari setiap suku masyarakat
tersebut mempengaruhi perkembangan emosional setiap individu suku tersebut
sehingga ketika individu lain diluar suku tersebut masuk dan berbaur dengan
kehidupan mereka, individu tersebut tidak merasa terasingkan melainkan
merasakan kehidupan kekeluargaan yang harmonis. Seperti halnya slogan “Tepo Asa
Aroa” yang berarti bersatu hati untuk mewujudkan masyarakat yang toleran
terhadap sesama tanpa memandang perbedaan, saling menghargai suku dan budaya
tiap-tiap orang, dan tidak mengganggu kebudayaan orang lain.
E.
DAFTAR PUSTAKA
Hefner, Robert W. (2007). Politik Multikulturalisme:
Menggugat Realitas
Kebangsaan. Terjemahan oleh Bernardus Hidayat
dari judul asli “The
Politics
of Multiculturalism, Pluralism and Citizenship in Malaysia,
Singapore,
and Indonesia”. Yogyakarta: Kanisius.
Hernandez,
Hilda. 2002. Multicultural Education: A Teacher Guide to Linking
Context, Process, and Content. New Jersey & Ohio: Prentice
Hall.
di-indonesia_5518bbb0813311cb669df0df
Tilaar, H.A.R. (2004). Multikulturalisme: Tantangan-tantangan Global
Masa
Depan dalam
Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo.
