Selasa, 27 September 2016

Makalah Pendidikan Multikultural "Tepo Asa Aroa"



Makalah

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
“TEPO ASA AROA DALAM PRESPEKTIF MULTIKULTURALISME”



 







Oleh :
Ranidya Marchella Mauruh
A 321 13 049

PROGRAM STUDI PPKN
JURUSAN PENDIDIKAN IPS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2016


A.      PENDAHULUAN
            Bangsa Indonesia terdiri atas sejumlah besar kelompok-kelompok etnis, budaya, agama dan lain-lain. Hefner (2007:16) mengilustrasikan Indonesia sebagaimana juga Malaysia dan Singapura memiliki warisan dan tantangan pluralisme budaya (cultural pluralism) secara lebih mencolok, sehingga dipandang sebagai “lokus klasik” bagi bentukan baru “masyarakat majemuk” (plural society). Keanekaragaman atau yang sering disebut dengan multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut. Keanekaragaman bangsa Indonesia dilatarbelakangi oleh jumlah suku-suku bangsa di Indonesia yang sangat banyak, dimana setiap suku bangsa tersebut mempunyai ciri atau karakter tersendiri, baik dalam aspek sosial maupun budaya. Jika masing-masing suku bangsa tersebut memiliki tradisi sosial budaya masing-masing, berarti di Indonesia ada dan berkembang bermacam-macam budaya yang memiliki ciri khas masing-masing. Contoh dalam bidang bahasa, dimana setiap daerah mempunyai bahasa daerahnya masing-masing. Bahasa daerah orang Sulawesi akan berbeda dengan bahasa orang Jawa. Jika dilihat dari segi dialek maka akan lebih banyak lagi, misalnyadi Sulawesi saja mempunyai banyak dialek lokal. Dan ada suatu semboyan yang sejak dahulu dikenal dan melekat dengan jati diri bangsa Indonesia yaitu “ Bhinneka Tunggal Ika”.
              Setiap suku di Indonesia memiliki slogan-slogan atau semboyan-semboyan budaya yang tentunya semboyan itu berakar, tumbuh dan berkembang pada budaya mereka sendiri. Semboyan yang dijadikan sebagai pandangan hidup maupun sebagai penangkal konflik yang kemungkinan terjadi karena keanekaragaman suku, agama dan ras bisa saja memanggil konflik untuk masuk dan memecah-belah kehidupan budaya kita yang beranekaragam. Kehadiran era reformasi yang semula diharapkan untuk mempersempit sekat-sekat perbedaan, justru membuat beberapa oknum anak bangsa membenarkan aksi agresif sektarian, militansi ekstrem, kebrutalan, separatisme dan tindakan-tindakan kekerasan lain yang bisa mengancam kesatuan nasional.
              Mori merupakan satu dari beribu suku yang ada di Indonesia. Seperti halnya kebanyakan suku, Mori juga memiliki semboyan atau slogan-slogan yang dipakai orang-orang Mori sebagai pandangan hidup untuk menciptakan kerukunan antar sesama baik itu diluar suku Mori maupun didalam suku Mori. Semboyan yang melekat bagi masyarakat suku mori tersebut yaitu “Tepo Asa Aroa” yang artinya “Bersatu Hati”.
              Melihat hal tersebut, penulis menganggap perlu menangkap dan mendokumentasi nilai-nilai budaya dan implementasinya dalam kehidupan antar umat beragama yang menghantarkan masyarakat suku Mori mampu membangun kehidupan toleran. Selain itu, tulisan ini, dapat juga dipandang sebagai bahan refleksi untuk membangun sebuah model masyarakat Indonesia yang lebih ramah untuk kehidupan budaya Indonesia yang beragam dengan didasarkan pada pengembangan nilai-nilai lokal.
B.       PERMASALAHAN
              Melihat latar belakang diatas timbul permasalah sebagai berikut :
1.      Apa makna yang terkandung dari semboyan “Tepo Asa Aroa” ?
2.      Bagaimana kontribusi makna dari Tepo Asa Aroa terhadap masyarakat suku Mori maupun diluar suku Mori ?
3.      Bagaimana hubungan semboyan tersebut dengan pendidikan multikulturalisme ?

C.      PEMBAHASAN
1.        Makna Slogan Tepo Asa Aroa
              Multikulturalisme berasal dari adanya suatu kebudayaan. Secara etimologi, multikulturalisme terdiri dari multi yang berarti “banyak”, kultur yang berarti “budaya”, dan isme yang berarti paham “aliran”. Jadi, multikulturalisme adalah suatu paham, corak, kegiatan, yang terdiri dari banyak budaya pada suatu daerah tertentu.
Multikulturalisme di Indonesia merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindarkan. Namun pada kenyataannya kondisi demikian tidak pula diiringi dengan keadaan sosial yang membaik. Bahkan banyak terjadinya ketidak teraturan dalam kehidupan sosial di Indonesia pada saat ini yang menyebabkan terjadinya berbagai ketegangan dan konflik.  Berbagaimacam slogan-slogan suku dan budya dibuat untuk meminimalisir terjadinya konflik-konflik. Slogan yang nantinya dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
              Tepo Asa Aroa adalah slogan masyarakat suku Mori yang berakar, tumbuh, dan berkembang pada kebudayaan suku Mori. Slogan ini mempunyai arti “bersatu hati”. Bersatu hati artinya bersama-sama menyatukan hati, pikiran dan perbuatan untuk membangun kehidupan yang tentram antar sesama sehingga tidak ada ruang bagi konflik untuk masuk. Masyarakat suku mori tidak hanya mengimplementasikan slogan budaya ini kepada sesama orang mori saja tetapi juga kepada orang lain diluar suku mori yang hidup berdampingan dengan mereka dalam satu kampung. Saling membantu, saling hidup menghidupi dalam berbagai bentuk tanpa memperdulikan perbedaan terlihat dari kehidupan masyarakat yang bisa saling mawas diri akan ancaman konflik. Berbagi dengan yang kekurangan, saling mendukung dalam kehidupan sosial serta mentoleransikan adat dan agama yang berbeda, jadi suasana sejuk yang terlihat dalam realitas kehidupan masyarakat bisa dirasakan oleh masyarakat suku mori maupun masyarakat lain yang hidup berdampingan dengan orang mori dalam satu kampung.

2.        Kontribusi Slogan “Tepo Asa Aroa” terhadap Masyarakat Suku Mori maupun diluar Suku Mori
              Tepo asa aroa bukan hanya sekedar slogan belaka tapi slogan ini mampu membangun kehidupan masyarakat suku mori  menjadi tentram dan aman, menumbuhkan rasa persaudaraan yang tinggi terhadap sesama suku maupun berbeda suku. Orang-orang suku mori sebagian ada yang hidup bertempat tinggal berbaur dengan masyarakat suku lainnya. Misalnya, di Kota Palu. Mayoritas masyarakat kota Palu adalah mereka yang bersuku Kaili, lain diantaranya adalah masyarakat suku lain. Mori adalah salah satu suku yang ada di kota Palu yang keberadaannya hanya sebagian kecil, mereka -orang suku mori- biasanya datang ke Palu untuk mencari pekerjaan, pendidikan yang layak dan ada pula yang memang bertempat tinggal di Palu. Kehidupan orang mori di kota Palu tidak lepas dari slogan “Tepo Asa Aroa”. Mereka mengimplementasikan makna slogan tersebut dalam kehidupan berbaur mereka dengan masyarakat lain sehingga kebanyakan orang menilai orang suku mori memiliki pribadi yang ramah.
              Dengan adanya slogan “tepo asa aroa” kehidupan sosial masyarakat suku mori dengan suku lainnya menjadi tentram dan aman. Tidak ada diskriminasi dari suku mayoritas kepada suku minoritas dan tidak ada rasa memaksakan budaya dari suku minoritas kepada suku mayoritas.

3.        Hubungan Slogan “Tepo Asa Aroa” dengan Pendidikan Multikulturalisme
     Tepo asa aroa dalam prespektif multikulturalisme tidak hanya merujuk pada budaya suku mori saja tetapi juga merangkul semua suku dan budaya meskipun memang slogan ini adalah milik masyarakat suku mori tapi dalam implementasinya merangkul semua suku dan budaya. Tepo asa aroa jika kita kaitkan dengan multikulturalisme berarti bersama-sama bersatu hati untuk menciptakan kehidupan suku, agama, ras dan budaya yang rukun tanpa adanya diskriminasi. Bersatu hati menjaga kerukunan kehidupan keanekaragaman budaya bangsa Indonesia.
Seiring dengan perkembangan zaman yang dipengaruhi oleh adanya globalisasi banyak terjadi krisis sosial-budaya yang terjadi di masyarakat. Misalnya seperti merosotnya penghargaan dan kepatuhan terhadap hukum, etika, moral, dan kesantunan sosial. Semakin luasnya penyebaran narkotika dan penyakit-penyakit sosial lainnya. Disinilah implementasi slogan “tepo asa aroa” berperan. Dimana seluruh masyarakat -bukan hanya orang mori- bersama-sama bersatu hati untuk mencegah terjadinya lebih banyak lagi krisis sosial-budaya dan penyakit sosial lainnya. Sehingga globalisasi tidak mengganggu keanekaragaman suku dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.
              Tepo asa aroa dalam kaitannya dengan pendidikan multikulturalisme diarahkan sebagai advokasi untuk menciptakan masyarakat yang toleran terhadap sesama. Menghindari pandangan diskriminasi terhadap budaya dan suku orang lain. Menurut Andersen dan Cusher (1994:320) pendidikan multikultural adalah pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Kemudian, James Banks (1993: 3) mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color. Artinya, pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan (anugerah Tuhan). Dimana dengan adanya kondisi tersebut kita mampu untuk menerima perbedaan dengan penuh rasa toleransi. Penyelenggaraan pendidikan multikultural dapat dikatakann berhasil apabila terbentuk pada diri setiap peserta didik sikap saling toleransi, tidak bermusuhan, dan tidak berkonflik yang disebabkan oleh perbedaan budaya, suku, bahasa, dan lain sebagainya.


D.      KESIMPULAN
              Slogan dari setiap suku masyarakat tersebut mempengaruhi perkembangan emosional setiap individu suku tersebut sehingga ketika individu lain diluar suku tersebut masuk dan berbaur dengan kehidupan mereka, individu tersebut tidak merasa terasingkan melainkan merasakan kehidupan kekeluargaan yang harmonis. Seperti halnya slogan “Tepo Asa Aroa” yang berarti bersatu hati untuk mewujudkan masyarakat yang toleran terhadap sesama tanpa memandang perbedaan, saling menghargai suku dan budaya tiap-tiap orang, dan tidak mengganggu kebudayaan orang lain.


E.       DAFTAR PUSTAKA
Hefner, Robert W. (2007). Politik Multikulturalisme: Menggugat Realitas
              Kebangsaan. Terjemahan oleh Bernardus Hidayat dari judul asli “The
              Politics of Multiculturalism, Pluralism and Citizenship in Malaysia,
              Singapore, and Indonesia”. Yogyakarta: Kanisius.

Hernandez, Hilda. 2002. Multicultural Education: A Teacher Guide to Linking
              Context, Process, and Content. New Jersey & Ohio: Prentice Hall.

              di-indonesia_5518bbb0813311cb669df0df

Tilaar, H.A.R. (2004). Multikulturalisme: Tantangan-tantangan Global Masa
              Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo.



Senin, 26 September 2016

Contoh Puisi Cinta



Kala itu disaat mentari pagi
 Tak menampakkan wajahnya
Aku duduk disini
Disamping jendela kaca ini
Menikmati  tiap tetes air hujan
Yang jatuh membasahi pagiku
Samar-samar ku lihat bayangan diluar sana
Tersenyum manis padaku
Ah Senyum itu
Aku tak akan pernah lupa senyum itu

Ingin ku ayunkan kakiku pergi
Kesana
Mendapatkan senyum itu
Tapi hujan
Hujan tak setuju aku pergi

Kubalas senyummu dari balik jendela
Ah sungguh
Ingin kuberlari memelukmu dibawah hujan
Menatap senyummu lekat-lekat
Sungguh aku tak bisa hanya terpaku saja dibalik jendela

Iya Aku harus pergi
Pergi mendapatkanmu

Ku segerai langkahku pergi
Melawan hujan yang tak pernah menyetujuiku
Aku tak peduli
Aku tak peduli hujan

Kuhentikan langkahku tepat dimana bayangan itu berdiri
Tapi
Dimana
Dimana senyum itu pergi
Dimana dia

Ah
Betapa bodohnya aku
Tertipu lamunanku sendiri

Gemuruh langit menertawakanku
Awan menyerangku dengan petirnya
Dan hujan menghapus lamunanku